More

    Lampu Sein – Tidak Pernah Jujur

    Menurutmu, berapa banyak orang yang dirugikan dari caraku menyalip kendaraan mereka?
    Mungkin banyak. Mungkin sedikit. Tapi tetap saja luar biasa, karena setiap kali aku menyalip, aku merasa sedang memainkan peran penting di jalanan: sebagai orang paling terburu-buru di dunia.

    Aku sering bertanya-tanya: kenapa ada manusia yang berkendara seperti siput pensiun?
    Apakah mereka sedang menikmati momen di jalan, merayakan setiap detik kemacetan? Atau memang mereka merasa hidup ini terlalu singkat untuk dikejar-kejar?

    Sementara aku, gas sudah kugenggam erat, jariku menempel di klakson.
    Klakson itu bukan sekadar bunyi tet, tapi semacam salam: “Permisi, aku lewat dulu ya. Bukan dendam, hanya kebutuhan.”

    Lucunya, mereka tidak tersinggung.
    Aku bisa lihat dari spion: wajah mereka datar, seperti patung yang tidak peduli. Bahkan ada yang tetap menyalakan lampu sein ke kiri padahal tidak pernah berbelok.
    Ada juga yang enak saja berada di tengah jalan, membelah jalur, seolah-olah dirinya itu median aspal resmi.

    Dan saat itu, darahku mendidih.
    Bukan mendidih karena panas matahari, tapi karena logika mereka yang dingin.

    Kadang aku membayangkan: andai saja aku juga sedang santai, mungkin aku tidak akan mengumpat pelan sambil menggerutu.
    Mungkin aku akan ikut melambat, menyapa langit, pura-pura sedang syuting film indie tentang perjalanan hidup.

    Tapi sayangnya, aku jarang punya kemewahan itu.
    Jam kerja menunggu. Macet mengejar. Waktu seperti anjing lapar yang selalu menggonggong di belakangku.

    Jadinya, aku hanya bisa melirik dengan kesal ke pengendara-pengendara itu, sambil menahan umpatan di mulut.
    Dan dalam hati kecilku yang masih jujur, aku benci mereka.
    Benci pada kelambanan yang sok santai.
    Benci pada lampu sein yang tidak pernah jujur.
    Benci pada keberanian mereka untuk tidak peduli meski sedang mengganggu jalur orang lain.

    Tapi semakin sering aku menyalip, semakin jelas juga pertanyaan lain di kepalaku:
    “Jangan-jangan suatu hari aku juga akan jadi seperti mereka?”
    Orang yang dianggap lamban, menghalangi jalan, lalu diam saja ketika disalip dan diklakson.

    Mungkin itu takdir setiap manusia jalanan: cepat di satu waktu, lambat di waktu lain.
    Hari ini aku yang marah, besok bisa jadi aku yang dibenci.

    Latest articles

    Related articles