More

    Internet yang Dijanjikan

    Manusia memang makhluk yang luar biasa

    Selalu mencoba mencari keuntungan di setiap kesempatan—termasuk aku, tentu saja.

    Bayangkan, aku sudah mencoba bertanya ke lebih dari lima provider wifi. Lima! Itu jumlah yang cukup untuk membuat sebuah forum diskusi, lengkap dengan moderator dan notulen. Dan seperti sudah diatur oleh hukum alam: semuanya bermulut manis pada awalnya. Sangat manis. Manisnya bahkan bisa membuat gigi berlubang hanya dengan membaca chat mereka.

    “Selamat siang, Kak. Kami siap bantu kebutuhan internet Kakak.”

    Nada ramah, emoji senyum, tanda seru ganda. Persis sahabat lama yang tiba-tiba rindu.

    Tapi manis itu mendadak jadi pahit ketika aku bilang:

    “Saya butuh yang terjangkau. Kalau bisa… sangat terjangkau.”

    Saat itu, percakapan berubah dingin. Jawaban singkat. Emotikon lenyap. Nada ramah hilang entah ke mana. Rasanya seperti hubungan asmara singkat yang hanya bertahan sampai kata “budget” muncul.

    Namun keajaiban kecil terjadi: dari sekian banyak, ada satu yang sesuai keinginanku. Tidak jauh dari ekspektasi. Kami bernegosiasi panjang lebar, layaknya dua diplomat yang sedang menentukan perbatasan negara. Setelah kesepakatan tipis-tipis, diputuskanlah hari untuk cek lokasi.

    Aku sempat merasa lega.

    Sampai akhirnya mereka datang, lalu menyebut biaya lain yang tidak pernah disebutkan sebelumnya. Biaya tambahan, katanya. Biaya administrasi, biaya instalasi, biaya kabel tambahan—biaya yang kalau kujumlahkan, hasilnya hampir sama dengan salah satu provider lain yang sebelumnya kutolak.

    Mengeluh? Ya jelas.

    Kecewa? Sudah pasti.

    Tapi, apa gunanya semua itu?

    Pada akhirnya aku tetap bilang: “Lanjutkan saja.”

    Bukannya aku bodoh. Bukan pula terlalu pasrah. Tapi aku realistis: bisa jadi lima provider lainnya juga punya trik serupa. Jadi, aku memilih untuk menyerahkan nasibku pada yang sudah datang. Setidaknya aku tidak perlu mengulang drama ini dari awal. Bukankah itu juga termasuk bijak?

    (Bijak tipis-tipis yang bercampur pasrah dan butuh.)

    Akhirnya, kami resmi berlangganan. Internet masuk. Koneksi berjalan. Semua orang lega. Aku pura-pura tenang, walaupun hatiku masih menggerutu.

    Beberapa hari kemudian, pesan baru masuk dari provider lain. Tawaran lebih murah. Lebih simpel. Lebih jernih. Aku menolak membaca detailnya. Aku menutup telinga, menutup mata, seolah-olah aku tidak pernah ingin tahu.

    Namun dalam hati, aku menyesal.

    Sedikit saja.

    Tidak besar, tapi cukup untuk membuatku sadar: manusia tidak pernah benar-benar puas.

    Dan mungkin, begitulah cara kerja dunia. Mulut manis di awal, biaya tambahan di akhir, lalu penyesalan yang dibungkus pasrah di tengah-tengah.

    Latest articles

    Related articles